Persiapan Piala Dunia 2026 di Ambang Ketegangan : Ancaman Politik & Keamanan
Bekasi, 18 Februari 2026 – Dengan waktu tersisa kurang dari 130 hari menuju pelaksanaan FIFA World Cup 2026, persiapan turnamen terbesar sepanjang sejarah sepak bola ini justru diwarnai oleh berbagai isu kontroversial yang mengancam kelancaran acara. Turnamen bersama tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—dengan format 48 tim dan 104 pertandingan, seharusnya menjadi pesta sepak bola global terbesar. Namun, kombinasi kebijakan imigrasi keras pemerintahan AS, ketegangan perdagangan antarnegara tuan rumah, serta kekhawatiran keamanan membuat banyak pihak mempertanyakan kesiapan dan bahkan keberlangsungan event ini.
Menurut pernyataan resmi dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), agen imigrasi ICE akan terlibat aktif dalam pengamanan venue di wilayah Amerika. Hal ini memicu reaksi keras dari kelompok advokasi imigran dan beberapa federasi sepak bola nasional. Beberapa kota tuan rumah seperti Los Angeles, Chicago, dan Atlanta menyatakan kekhawatiran bahwa operasi penegakan imigrasi di sekitar stadion bisa menciptakan atmosfer ketakutan bagi suporter internasional, terutama dari negara-negara yang terdampak kebijakan visa ketat atau travel restrictions baru-baru ini.
Di sisi lain, hubungan politik antarnegara tuan rumah juga memanas. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengancam akan memberlakukan tarif impor tinggi terhadap barang dari Meksiko dan Kanada jika isu perbatasan dan perdagangan tidak diselesaikan. Respons dari Ottawa dan Mexico City tidak kalah tegas, dengan beberapa pejabat menyebut kemungkinan menarik dukungan logistik jika situasi memburuk. Media Kanada bahkan melaporkan diskusi internal tentang skenario “relokasi sebagian pertandingan” ke stadion di Toronto atau Vancouver jika kondisi di AS dianggap tidak aman.
Isu keamanan juga semakin rumit dengan ancaman siber, potensi serangan drone, dan risiko kerusuhan suporter lintas negara. Anggaran keamanan AS untuk event ini telah membengkak hingga lebih dari $2 miliar, termasuk sistem anti-drone canggih dan pengerahan National Guard di beberapa kota. Namun, kritik dari organisasi hak asasi manusia menyebut bahwa fokus berlebih pada pengawasan imigrasi justru mengalihkan sumber daya dari ancaman terorisme atau kekerasan massa.
Beberapa negara peserta mulai menunjukkan sinyal kekhawatiran. Tim nasional dari beberapa negara Amerika Latin dan Afrika dilaporkan sedang mempertimbangkan protokol darurat, termasuk rencana evakuasi delegasi jika situasi politik memburuk. Di Eropa, federasi beberapa negara besar seperti Jerman dan Prancis menyatakan akan memantau perkembangan hingga Mei 2026 sebelum memutuskan langkah lebih lanjut, termasuk kemungkinan boikot parsial jika jaminan keselamatan suporter tidak memadai.
FIFA hingga kini tetap menyatakan bahwa persiapan berjalan sesuai jadwal, dengan sebagian besar stadion telah lolos inspeksi dan penjualan tiket tahap awal mencapai rekor. Namun, di balik optimisme resmi tersebut, banyak analis sepak bola internasional menyebut Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi turnamen paling penuh drama politik sejak edisi 1978 di Argentina atau 2014 di Brasil.
Apakah sepak bola masih mampu menyatukan dunia di tengah badai geopolitik yang semakin kencang? Atau justru menjadi korban dari konflik yang tak terkendali? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa bulan mendatang
Posting Komentar
Mari komentar gan atau ada tambahan tulis disini ya